FokLine

13 Strategi Cerdas MeLawan Bullying

Pinterest LinkedIn Tumblr

Bullying menjadi topik yang cukup ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Istilah ini memiliki definisi yang erat dengan ungkapan penindasan, intimidasi hingga perisakan dalam bahasa Indonesia.Tindakan tak tepuji ini, diakui atau tidak telah menjadi borok dalam ranah sosial manusia yang bahkan seseorang bisa tanpa sadar telah melakukannya. Praktik bullying merupakan masalah yang tak hanya menyerang anak hingga remaja masa sekolah, namun juga kalangan dewasa.

Dikutip dari situs bullyingnoway.gov.au, bullying diartikan sebagai tindakan penyalahgunaan kekuasaan secara terus-menerus dan disengaja dalam hubungan melalui perilaku verbal, fisik, dan / atau sosial yang berulang yang berniat menyebabkan kerusakan fisik, sosial, dan / atau psikologis. Kegiatan Ini dapat melibatkan individu atau kelompok yang menyalahgunakan kekuasaan mereka, atau kekuatan yang dirasakan, atas satu atau lebih orang yang merasa tidak mampu menghentikannya.

Tak hanya bisa terjadi secara langsung, kemutakhiran teknoogi mengizinkan tindakan asusila ini terlaksana secara daring melalui berbagai platform dan perangkat digital baik yang sifatnya jelas terbuka maupun disembunyikan atau terselubung. Perilaku intimidasi diulangi, atau berpotensi untuk diulangi, seiring waktu, dimana hal ini dapat dilihat melalui berbagi catatan digital (digital record).

Bullying dalam beraneka ragam bentuk dan berbagai motif yang tersembunyidi belakangnya, dapat memberian dampak langsung, menengah, hingga jangka panjang pada oknum-oknum yang terlibat, termasuk pada para penonton yang notabene hanya menyaksikan tindakan tersebut. Bagi korban, perlakuan bullying akan merampas rasa percaya diri mereka. Sedangkan bagi pelaku bully, dampak yang mungkin timbul adalah kebiasaan dan kenikmatan yang meningkatkan ego mereka. Trauma emosional dan rasa takut yang dialami oleh korban dapat meningkatkan kecenderungan untuk putus sekolah. Sebaiknya, beberapa anak-anak yang terbiasa melakukan bullying di sekolah memiliki potensi menjadi orang yang kejam atau penjahat saat dewasa nanti.

Alih-laih mengeluh karena takut menerima reaksi dari si pengganggu, korban bully biasanya akan menunjukkan gejala-gejla khas apabila ia mendapat aksi bullying. Sulit tidur, Tidak fokus saat di kelas atau kegiatan apapun, sering membuat alasan untuk absen di sekolah, tiba-tiba menjauhkan diri dari aktivitas yang disukai sebelumnya seperti berangkat sekolah bersama teman atau mengunjungi tempat bermain, lebih sering tampak gelisah, lesu dan putus asa terus-menerus merupakan sebagian gejala yang paling sering ditampakkan oleh para korban bulyying.

Tindakan bullying, dalam kaitannya dengan definisi bullying sendiri, yakni mengapa tindakan tersebut dapat terjadi, hingga bagaimana itu bisa dicegah atau dikurangi, secara garis besar memiliki tiga perspektif yang berbeda. Ketiga perspektif tersebut adalah perspektif individu, perspektif sosial-ekologis, dan perspektif sistemik. Perspektif individu memandang intimidasi sebagai masalah individu, psikologis, dan perilaku. Perspektif sosial-ekologis melihat bullying sebagai masalah dinamis hubungan interpersonal dan ekspresi status yang berbeda-beda dan hubungan kekuasaan yang tidak setara antara individu dan kelompok sosial dalam konteks ekologi. Sedangkan perspektif sistemik menjabarkan intimidasi sebagai masalah budaya dan sistem yang terkait dengan dinamika kekuasaan yang melekat di semua lembaga. Perspektif dipakai sebagi acuan pendekatan guna mencegah dan menanggulangi praktik bullying. Pendekatan yang digunakan dapat mengacu pada satu atau lebih dari ketiga perspektif yang ada.

Bagaimana ketiga perspektif ini diaplikasikan?

Perspektif individu, misalnya, mengategorikan motif dari tindakan bullying menjadi lima poin yakni naluri alami yang ingin menunjukkan dominasi sosial oleh individu, atribut psikologis dan sifat kepribadian; kecenderungan individu untuk mengganggu dan memprovokasi; kurangnya pemahaman tentang perilaku yang sesuai dengan norma; serta kegagalan untuk mematuhi aturan dalam konteks usia dan fase perkembangan. Mengacu dari motif bullying dalam perspektif individu, maka bullying dapat dicegah atau dikurangi melalui beberapa cara seperti, kegiatan konseling untuk meningkatkan kesadaran diri dan harga diri, pelatihan kontrol diri dan manajemen kemarahan, pelatihan untuk pemecahan masalah dan keterampilan sosial, mendorong pelaku bullying agar tidak terlalu rentan dengan cara memodifikasi perilaku mereka, serta pengembangan dan penegakan aturan juga batas-batasnya.

Pada praktiknya, penggunaan perspektif individu ini juga memiliki permasalahan, batasan, hingga risiko yakni, menitikberatkan pada pengukuran dan perbaikan kekurangan masing-masing individu; tidak terlibat dengan faktor-faktor penyebab sosial yang mendasar, seperti nilai-nilai tentang keragaman, kepercayaan sosial dan sikap; prinsip “zero tolerance” atau toleransi nol tidak mungkin digunakan untuk membantu pelaku bullying yang sedang mempelajari cara-cara alternatif dalam berinteraksi dengan orang lain; tindakan berupa hukuman dan ancaman dapat menghalangi dan melemahkan upaya menuju perubahan sikap dan kerja sama tanpa paksaan.

Berbeda dengan perspektif individu, perspektif sosial-ekologis menjabarkan motif bullying karena adanya tekanan teman sebaya dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial, dinamika sosial antar kawan, norma-norma masyarakat termasuk pemodelan orang tua / pengasuh, staf dan anggota komunitas lainnya, keyakinan tentang orang-orang yang digunakan untuk membenarkan perilaku diskriminatif atau menjadi korban, serta pesan sosial tentang karakteristik dan perilaku yang sesuai atau diinginkan (misal ketangguhan berarti kekuatan) yang mengarah pada penerimaan perilaku seperti bullying. Pencegahan atau penanggunalangan bullying mengacu pada  perspektif sosial-ekologis dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti membuat model dan mengembangkan nilai-nilai hubungan antara individu dan instansi atau lembaga tempat bekerja atau belajar; mengembangkan pengetahuan dan keterampilan individu dalam hal-hal positif untuk mempengaruhi tindakan lain menjadi lebih  bertanggung jawab; dan menggunakan kegiatan, bahasa dan sumber daya yang ada untuk mengenali serta memeriksa secara kritis juga menghadapi sikap dan perilaku diskriminatif.

Diakui bahwa apllikasi perspektif sosial ekologis ini pun memunculkan beberapa  permasalahan, batasan, hingga risiko seperti, pelakasanaan prosedur yang tidak baik dan praktisi yang kurang terlatih dapat memperburuk keadaan; membutuhkan fokus pada pengetahuan dan keterampilan atasan atau guru; dan mengharuskan atasan atau guru untuk menyelidiki keyakinan dan bias para pelaku bullying sendiri tentang individu dan kelompok di masyarakat; memerlukan waktu dan investasi sumber daya yang besar; dan membutuhkan keterlibatan seluruh komunitas dalam lembaga yang menjadi tantangan tersendiri.

Perspektif sistemik yang merupakan perspektif ketiga dalam praktik bullying medefinisikan motif dari tindakan ini sebagai perbedaan kekuatan antara berbagai kelompok sosial; asumsi kelembagaan, politik dan budaya misalnya dominasi paradigma individualis; dan kegagalan untuk mengenali kekerasan sistemik, misalnya pendekatan hukuman hingga intimidasi oleh guru atau atasan. Mengacu pada erspektif sistemik, maka bullying dapat ditanggulangi melalu beberapa cara seperti pendalaman peran bagi seluruh komponen lembaga atau sekolah dan masyarakat luas dalam menyebarkan contoh perilaku positif dan hormat pada kebijakan dan prosedur; pembelajaran kepemimpinan yang terinformasi, pedagogi kritis dan pendekatan inkuiri secara profesional; peningkatan iklim sosial yang baik melalui hubungan antar staf maupun antar siswa dalam kantor atau sekolah secara keseluruhan; dan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui pembangunan jaringan komunitas yang kolaboratif, lintas sektor dan kegiatan antarlembaga yang terintegrasi.

Seperti dua perspektif sebelumya, perspektif sistemik tak luput dari berbagai permasalahan, batasan, hingga risiko seperti, pendekatan perubahan iklim / budaya di lingkungan kantor atau sekolah membutuhkan banyak waktu dan upaya untuk menjadi mapan; koordinasi dan pemantauan mengharuskan kantor atau sekolah untuk mengembangkan dan menciptakan kegiatan, tugas, kebijakan, dan prosedur yang kompatibel; membutuhkan investasi besar dalam kepemimpinan yang informatif dan strategis; tanpa dukungan implementasi yang memadai, faktor sosial, lingkungan atau psikologis dapat diabaikan.

Tindakan bullying tampaknya sudah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat dan menjadi sebuah ironi melihat fakta bahwa tindakan tersebut dianggap sebagai hal yang normal dan bukan menjadi masalah serius. Seperti dilansir dari verywellfamily.com Sebagian orang menganggap bahwa bullying hanya sebatas perbuatan fisik dan pemanggilan nama. Atau mungkin anak laki-laki yang meninju, menendang, dan saling memukul. Tetapi, intimidasi fisik hanyalah salah satu jenis tindakan bullying yang paling populer dan dikenal oleh orang. Apabila dipelajari lebih dalam, faktanya terdapat lebih dari dua jenis bullying, termasuk segala sesuatu mulai dari tindakan pengucilan, menggosipkan orang, hingga mengolok-olok ras atau agama lain. Hal ini selaras dengan pernyataan yang dilansir dari healthline.com, yang menyatakan bahwa tindakan bullying mencakup serangkaian tindakan yang menyebabkan rasa sakit fisik atau emosi, mulai dari menyebarkan desas-desus, pengucilan yang disengaja, hingga pelecehan fisik. Berikut ini adalah enam jenis tindakan bullying yang paling umum dan paling sering terjadi.

  1. Bullying secara Fisik

Bullying secara fisik adalah bentuk tindakan bully yang paling jelas. Kegiatan ini kerap terjadi ketika anak-anak atau remaja menggunakan tindakan fisik untuk mendapatkan kekuatan hingga kontrol atas target atau korban mereka. Pelaku bully secara fisik biasanya memilik kecenderungan postur tubuh yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih agresif daripada teman sebaya mereka. Menendang, memukul, meninju, menampar, mendorong, dan serangan fisik lainnya merupakan contoh-contoh bully secara fisik.

Berbeda dari bentuk-bentuk bullying lainnya, bully secara fisik menjadi bentuk yang paling mudah untuk diidentifikasi. Pada praktiknya, sekolah atau lembaga tempat terjadinya tindakan bullying secara fisik memberikan perhatian lebih besar ketimbang bentuk tindakan bullying yang lebih halus.

     2. Bullying secara Verbal

Kata-kata, pernyataan, pemanggilan nama, hingga julukan yang mengarah pada konotasi buruk menjadi alat yang digunakan oleh pelaku dalam kasus bullying secara verbal.  Tak berbeda dari motif bullying secara fisik, pelaku intimidasi verbal melakukan tindakan ini untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol atas target atau korbannya. Tak jarang, pelaku bully verbal akan melakukan penghinaan tanpa henti untuk meremehkan, merendahkan, dan melukai orang lain. Apasaja kriteriayang digunakan pelaku untuk memilih korbannya? Mereka memilih target atau korbannya berdasar cara mereka melihat, bertindak, atau berperilaku. Bahkan kriteria tersebut juga umum bagi pelaku bullying secara verbal dengan target anak-anak dengan kebutuhan khusus atau difabel.

Jika bully secara fisik menjadi yang paling mudah untuk diidentifikasi, maka bullying secara verbal sering  kai menjadi hal yang sangat sulit diangkat ke permukaan, karena serangan yang dilancarkan hampir selalu terjadi ketika orang dewasa tidak ada. Akibatnya, tak jarang  terjadi pertentangan kesaksian antara satu orang dan orang lainnya. Fakta lain menunjukkan bahwa banyak orang dewasa berpikiran jika hal-hal yang dikatakan anak-anak tidak akan berdampak signifikan pada orang lain. Dampaknya, orang dewasa biasanya memberi saran pada korban bullying untuk mengabaikannya. Namun sesungguhnya segala bentk bullying termasuk secara verbal perlu ditanggapi dengan serius. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa intimidasi verbal dan pemanggilan nama memiliki konsekuensi serius dan dapat meninggalkan bekas luka emosional yang dalam bagi korban.

  1. Agresi Relasional

Agresi Relasional tak jarang disebut sebagai intimidasi emosional. Agresi relasional sendiri adalah jenis manipulasi sosial dimana para pelaku bully mencoba untuk menyakiti rekan-rekan mereka salah satunya dengan cara menyabotase status sosial korban.Agresi relasional adalah tipe intimidasi yang licik dan berbahaya yang bahkan sering tidak diperhatikan oleh orang tua atau guru.

Pelaku bully relasional ini sering melancarkan aksinya dengan cara mengasingkan orang lain dari suatu kelompok, menyebarkan desas-desus, memanipulasi situasi, hingga merusak kepercayaan. Tujuan di balik pelaku intimidasi yang agresif adalah meningkatkan kedudukan sosial mereka sendiri dengan mengendalikan atau mengintimidasi orang lain.

Praktik bullying yang umum terjadi menunjukkan bahwa anak perempuan cenderung lebih sering menggunakan agresi relasional daripada anak laki-laki, terutama antara kelas lima dan delapan. Akibatnya, muncul istilah gadis nakal atau frenemies untuk anak perempuan yang sering terlibat dalam agresi relasional. Kasus jenis bullying yang satu ini memungkinan korban tak dapat mengindari ejekan, dihina, diabaikan, dikucilkan hingga perlakuan intimidasi. Meskipun agresi relasional menjadi hal yang umum terjadi di lingkungan sekolah, faktanya jenis bullying yang satu ini juga muncul di lingkungan kerja hingga sosial masyarakat yang dampaknya tak jauh berbeda.

  1. Cyberbullying

Teknologi berkembang begitu pesat tak hanya memberikan dampak positif yang sangat membantu, namun juga dibarengi dengan sisi negatif, salah satunya bullying melalu internet yang disebut dengan istilah cyberbullying. Para pelaku cyberbully sering mengatakan hal-hal yang mereka tidak berani katakan secara langsung. Adanya media sosial berbasis online dimana penggunanya bebas untuk mengunakan lebih dari satu akun dengan nama yang dapat disamarkan membuat para pelaku bullying merasa aman, anonim, terisolasi dan terlepas dari situasi. Akibatnya, cyberbullying atau intimidasi online sering kali lebih kejam dan jahat dibanding jenis bullying lainnya.

Target atau korban cyberbullying sendiri lebih bersifat invasif dan tidak pernah berakhir. Karena teknologi berbasis online tidaklah mengenal tempat dan waktu, para pelaku bully dapat mendatangi korban kapan saja dan di mana saja, bahkan ketika korban sering kali sudah merasa aman saat berada di rumah mereka sendiri. Akibatnya, muncul konsekuensi yang sangat signifikan dari penindasan cyber ketika seorang remaja berusia belasan tahun menggunakan internet, smartphone, atau teknologi lainnya untuk melecehkan, mengancam, mempermalukan, atau menargetkan orang lain.

Beragam bentuk dari cyberbullying telah banyak beradar di media-media mainstream hingga media sosial. Memposting gambar yang menyakitkan, membuat ancaman online, dan mengirim email atau teks yang menyakitkan merupakan sebagian contoh nyata dari cyberbullying. Konektivitas pelaku dan korban yang hampir tidak dapat diputuskan menjadi unsur cyberbullying yang perlu diperhatikan dalam upaya menghindari praktik bully yang satu ini. Cyberbully merupakan masalah yang berkembang di kalangan anak muda yang konsekuensinya semakin  meluas karena pelaku intimidasi dapat mengganggu target atau korban mereka dengan risiko penangkapan yang jauh lebih kecil.

  1. Penindasan Seksual

Penindasan seksual merupakan salah satu jenis bully yang terdiri dari tindakan yang berulang, berbahaya, memalukan, dan menargetkan seseorang secara seksual. Pemanggilan nama sensual, komentar kasar, gerakan vulgar, sentuhan agresif pada orang lain tanpa persetujuan, proposisi seksual, dan materi pornografi menjadi bentuk penindasan seksual yang paling sering dipraktikkan. Kasus yang paling populer, misalnya, para pelaku intimidasi dapat berkomentar kasar tentang penampilan, daya tarik, perkembangan seksual, atau aktivitas seksual seorang gadis yang dalam konteks ini sebagai korban. Dalam kasus-kasus ekstrem, intimidasi seksual bahkan bisa membuka pintu bagi beragam serangan seksual.

Bukan rahasia lagi jika kaum perempuan sering menjadi sasaran intimidasi seksual baik oleh para lelaki maupun oleh perempuan lainnya. Sentuhan yang mengarah pada konotasi sensual hingga komentar kasar tentang tubuh korban cukup sering dilakukan oleh kaum pria. Daam kasus lain, seorang wanita, bisa saja memanggil nama wanita lain dengan ungkapan-ungkapan kasar yang berbau sensual seperti “pelacur” atau “gelandangan”, membuat komentar menghina tentang penampilan atau tubuh mereka, dan terlibat dalam tindakan mempermalukan satu sama lain.

Kegiatan sexting atau saing  berkirim pesan berbau sensual juga dapat menjadi salah satu bentuk nyata dari intimidasi seksual. Misalnya, seorang gadis dapat mengirim foto dirinya ke pacar. Ketika mereka putus, sebagai tindakan balas dendam akibat patah hati, ia kemudian membagikan foto tersebut pada teman-temannya hingga melalui media sosial. Sebagai konsekuensinya, sang gadis menjadi sasaran intimidasi seksual karena orang-orang mengolok-olok tubuhnya, memanggil dengan nama-nama kasar, dan membuat komentar vulgar tentang dirinya. Beberapa anak laki-laki, bahkan mungkin saja melihat ini sebagai ajakan hingga undangan terbuka untuk menyerangnya secara seksual.

  1. Penindasan Prasangka

Penindasan prasangka didasarkan pada prasangka yang dimiliki seseorang terhadap orang lain dari berbagai ras, agama, atau orientasi seksual. Jenis penindasan ini dapat mencakup semua jenis penindasan lainnya termasuk penindasan di dunia maya, penindasan verbal, penindasan relasional, penindasan fisik, dan terkadang penindasan seksual.

 

Banyaknya jenis bullying yang ada saat ini, tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokoh atau para pelakunya. Pelaku bully bisa sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain. Motivasi dari setiap pelaku ketika melakukan tindakan bullying pada orang lain berbeda-beda. Secara garis besar, terdapat enam jenis pelaku bully yang paling banyak ditemui, sebagai berikut.

  • Korban Bully

Bukan hal yang tidak mungkin bahwa korban bully suatu saat nanti akan bangkit setelah diintimidasi dan ingin mengekspresikan sikap balas dendam atas apa yang telah diterimanya. Bekas korban bully ini mungkin saja menggertak dan mengintimidasi orang lain yang lebih lemah dari mereka. Lalu apa motivasi mereka melakukan hal yang sama pada orang lain? Tujuan para korab bully ini biasanya adalah untuk mendapatkan kembali rasa percaya diri, dan kekuasaan serta kontrol penuh dalam hidup mereka.

Jenis pelaku bully ini menjadi sangat umum. Bukan hal yang aneh ketika, sebagian besar pelaku bully yang menggertak orang lain pernah diperlakukan sebagai target penindasan di masa sebelumnya. Bullying bagi mereka bekas korban bully, menjadi  cara membalas dendam atas rasa sakit yang mereka rasakan. Pada kasus lain, ditemukan juga pelaku bullying merupakan korban yang berasal dari rumah tangga yang penuh dengan kekerasan atau menerima pelecehan dari saudara yang lebih tua. Dalam kasus ini, intimidasi menjadi perilaku yang dipelajari. Tidak sedikit dari korban bully adalah seorang penyendiri dan lebih sering menghindar dari keramaian. Fakta ini nyatanya justru menambah rasa ketidakberdayaan dan kemarahan yang mereka rasakan.

  • Pelaku bullying populer

Ego yang besar, kepercayaan diri yang tinggi, dan sifat merendahkan orang lain menjadi karakter utama pelaku bullying populer. Tak jarang mereka biasanya memiliki sekelompok pengikut atau pendukung yang mungkin saja memiliki karakter identik dengan mereka. Selain itu, pelaku intimidasi populer juga menyimpan perasaan kepemilikan hak-hak yang tinggi, yang dapat berasal dari popularitas, tingkat kecerdasan, status pendidikan, atau status sosial ekonomi mereka. Para pelaku bullying populer ini berkembang dengan latar belakang kekuatan fisik dan kontrol yang mereka miliki atas target atau korban yang memungkinkan mereka untuk menyembunyikan hingga memberikan pengakuan palsu atas perbuatan intimidasi yang telah dilakukan demi keuntungan pribadi.

Kasus yang terjadi pada pelaku bullying populer yang dalam konteks ini dicontohkan dari kaum pria, paling sering menggertak atau mengintimidasi orang lain melalui tindakan fisik seperti mendorong, merampas benda-benda milik korban atau menggunakan barang-barag yang ada disekitarnya sebagai media bullying. Sedangkan pada kasus yang pelaku bullying bergender wanita, mereka lebih sering menggunakan agresi relasional sebagai cara bullying terhadap korbannya. Mereka menyebarkan gosip, manipulatif, dan seringkali mengucilkan orang lain.

Pada praktiknya, pelaku bullying populer tak jarang adalah seorang atlet atau bintang sekolah atau pemimpin sekolah yang dipersepsikan. Kepercayaan diri mereka berkembang dengan baik melalui perhatian dan kekuatan yang mereka dapatkan dari intimidasi pada orang lain. Remaja lain yang berlaku sebagai korban faktanya justru lebih  sering mentolerir hingga tidak menghiraukan jenis pengganggu ini karena mereka lebih memilih bisa diterima daripada diintimidasi lebih parah.

  • Pelaku bullying relasional

Pelaku bullying jenis ini biasanya terdiri dari individu-individu yang cukup populer dan memiliki sifat suka memutuskan siapa yang diterima di sekolah ataupun suatu kelompok dan siapa yang tidak. Mengucilkan, mengisolasi, dan mengasingkan orang lain adalah senjata yang paling umum digunakan oleh para pelaku bullying relasional ini. Tak jarang, pelaku intimidasi hanya akan menggunakan intimidasi verbal atau emosional untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol mereka atas sesuatu. Pada kasus yang sering terjadi, gadis-gadis menjadi pemain yang paling banyak berperan sebagai pelaku bullying relasional.

Para pelaku juga mempertahankan kekuatan mereka dengan menyebarkan rumor, gosip, label buruk, dan pemanggilan nama yang menjelekkan. Biasanya, orang yang dijadikan target atau korban adalah seseorang yang telah membuat mereka merasa cemburu atau tidak dapat diterima secara sosial. Alasan utama dari bullying relasional adalah untuk mempertahankan popularitas. Pengganggu relasional akan melakukan apa saja untuk menjadi bagian dari “dalam kerumunan dan kelompok tertentu.

  • Pelaku bullying berantai

Bullying berantai atau serial bully adalah tipe lain dari bully yang sering ditemukan di kalangan populer. Pelaku jenis bullying yang satu ini memiliki sifat sistematis, terkontrol, dan terhitung dalam pendekatan mereka. Bahkan saking teraturnya tindakan bullying yang dilakukan oleh para pelaku, orang tua, guru, dan atasan mungkin saja tidak tahu hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh pelaku intimidasi.

Dari luar, tipe pelaku bullying ini tapak manis, menawan, dan karismatik bagi pihak-pihak tertentu. Tetapi siapa yang tahu jika di dalam, mereka bisa bersikap dingin, penuh perhitungan dan cenderung menimbulkan rasa sakit bersifat emosional pada korban mereka dalam jangka waktu yang lama. Terkadang, pelaku intimidasi berantai akan menggunakan bullying secara fisik, tetapi dengan syarat hanya jika mereka yakin mereka tidak akan tertangkap.

Pelaku bullying beratai juga berlaku sebagai manipulator dan pembohong yang terampil dan biasanya pandai berperan sebagai teman palsu. Sifat manis dan baik mereka hanyalah cara lain untuk memanipulasi situasi sesuai dengan keinginan mereka.

Mereka bahkan mampu memutarbalikkan fakta dan situasi demi membuat diri mereka terlihat tidak bersalah ataupun sebagai cara untuk keluar situasi yang tidak menguntungkan ketika mereka dihadapakan pada suatu masalah. Faktanya, para pelaku intimidasi sering kali sangat ahli dalam penipuan sehingga akibat yang paling sering dirasakan korban adalah mereka munculnya rasa takut untuk berbicara, karenamerasa yakin bahwa tidak ada yang akan mempercayai perkataan mereka sebagai korban.

  • Pelaku bullying kelompok

Pelaku bullying yang termasuk dalam kategori ini, biasanya merupakan bagian dari kelompok dan memiliki mentalitas tinggi ketika mereka bersama. Mereka cenderung menggertak dan mengintimidasi sebagai kelompok tetapi berperilaku jauh berbeda hingga benar-benar berkebalikan ketika sedang sendirian, bahkan jika mereka sendirian dengan korban. Biasanya, kelompok pelaku bullying ini hanya melancarkan aksinya ketika bersama dengan orang yang mereka anggap sebagai pemimpin dan lebih menujukkan sikap meniru serta mengikuti pemimpin kelompoknya.

Perasaan individu yang lebih terisolasi ketika sedang berada dalam kelompok, menjadikan mereka sering mengekspresikan perasaan bebas mereka dengan mengatakan dan melakukan hal-hal yang tidak akan mereka lakukan paa keadaan sebaliknya. Mereka juga merasa kurang bertanggung jawab atas tindakan mereka karenaadanya anggapan bahwa “semua orang juga melakukannya.” Bullying kelompok adalah jenis intimidasi yang sangat berbahaya karena hal-hal dengan cepat dapat meningkat di luar kendali pada para pelakunya.

  • Pelaku bulliying yang acuh tak acuh

Pelaku intimidasi yang bersifat acuh tak acuh pada berbagai kasus seringkali tidak dapat merasakan empati. Akibatnya, mereka tak jarang terlihat dingin, datar,  tidak berperasaan,  dan memiliki sedikit, bahkan jika ada, penyesalan atas tindakan bullying yang telah mereka lakukan kepada korban atau tagetnya. Walaupun kenyataannyapelaku bullying yang acuh tak acuh lebih jarang dari jenis pelaku bullying lainnya, namun ternyata pelaku bully ini sering kali paling berbahaya daripada jenis-jenis pelaku bully lain.

Alasan utama dari pelaku bullying ini untuk melakukan tindakan penindasan adalah karena kenikmatan semata ketika melihat orang lain menderita. Selain itu, pelaku intimidasi acuh tak acuh sering kali menunjukkan keganasan dan memiliki masalah psikologis serius dan mendalam yang perlu ditangani oleh seorang profesional. Intervensi intimidasi tradisional biasanya tidak membawa perubahan dalam intimidasi mereka.

Bullying telah menjadi masalah serius yang dapat menggagalkan sekolah, kehidupan sosial, dan keseimbangan emosional. Hal ini menjadi semakin urgent ketika teknologi seperti internet, ponsel, dan media sosial menjadi cara-cara baru untuk berkomunikasi dan melecehkan satu sama lain. Bullying tak ubahnya sebagai permasalahan yang nyata dengan konsekuensi serius.

Pada dasarnya banyak hal yang dapat dilakukan apabila perlakuan bullying atau intimidasi secara nyata tampak di depan mata atau bahkan dialami sendiri. Namun, pada praktiknya, setiap strategi  tentu memiliki hasil dan dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang yang menerapkannya guna terbebas dari perilaku bullying. Dalam melawab bullying, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencoba menyelesaikannya sendiri. Bergantung pada seberapa buruk penindasan itu,  selama tidak ada risiko yang terlalu besar, maupun ketakutan atau terancam secara fisik, penyelesaian madiri menjadi pilihan pertama dan utama untuk menyelesaikannya. Semakin tinggi kemampuan untuk memberdayakan diri sendiri,  maka semakin besar pula peluang yang terbuka untuk menghentikan pelaku bullying atau intimidasi. Apabila para pelaku bully tidak mengubah perilaku mereka, saat itulah bicara dan berkonsultasi pada orang lain menjadi tindakan yang bisa sangat membantu. Jika ditinjau kembai, maka tujuan pelaku bullying adalah untuk mengambil kepercayaan diri, kekuatan, menimbulkan perasaan sedih dan takut.

Apabila korban menunjukkan perasaan dan ekspresi kebalikan dari apa yang mereka harapkan, seperti tidak sedih dan takut, tak jarang pelaku akan kehilangan minat dan mereka tidak dapat mengambil alih kendali dan kekuatan korbannya. Selalu ingat bahwa tindakan bullying selalu berusaha membuat para korbannya terusik hingga marah. Jika target tidak menunjukkan sikap  marah, pelaku intimidasi akan kehilangan kekuatan mereka sendiri. Sejatinya para pelaku bullying juga adalah manusia biasa yang  makan, tidur, dan hidup sama seperti para korbannya. Pelaku intinidasi bertindak seperti yang mereka lakukan salah satunya karena mereka kurang perhatian atau cinta orangtua dan mengasuh yang dimiliki oleh orang lain atau yang secara khusus dimiliki korbannya. Mereka merasa tidak aman dan menggertak hanya untuk merasa kuat. Dirangkum dari situs stompoutbullying.org.

stops - 13 Strategi Cerdas MeLawan Bullying

13 strategi cerdas untuk melawan praktik bullying

  1. Yakin pada diri sendiri

Para pelaku bullying biasanya memilih orang-orang yang mereka pikir lebih lemah dari mereka, jadi berusaha meyakinkan diri sendiri untuk mereka adalah cara yang terbaik. Ketakutan mungkin saja muncul, namun tetap merasa yakin untuk melawan tindakan bully lama-kelamaan akan menguatkan dan menambah kepercayaan diri.

  1. Pergi saat pelaku bullying mendekati

Sebuah strategi yang bisa diterapkan dalam mengahdapi tindakan bullying adalah dengan menjauh. Ketika beremu dengan pelaku intimidasi dan memilih untuk barjalan menjauh atau memberikan kesan “biasa saja” bahasa tubuh yang muncul akan menunjukkan sikap tidak peduli. Berkonsentrasi dan memikirkan sesuatu yang lain ketika pelaku bullying  mendekat dapat mengaihkan atau menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Para pelaku pun tidak akan pernah melihat ekspresi yang ditampakkan. Sehingga terus berjalan dan tidak berbalik apa pun yang mereka katakan adalah pilihan bijak.

  1. Tetap positif dan bangun perisai diri

Pikiran yang posistif akan membantu dalam mencairkan dan mendinginkan suasana. Memikirkan seberapa buruk perasaan si pelaku intimidasi juga dapat membantu untuk tetap positif.  Membangun perisai diri baik secara fisik maupun psikis juga bisa mencegah munculya tindakan bullying. Kemampuan pertahanan diri yang baik hingga karakter yang positif akan sangat membantu dalam menghadapi bentuk-bentuk bullying yang ada.

  1. Jauhi lokasi bullying

Strategi lain untuk mencegah terjadinya tindakan bullying adalah dengan menjauhi tempat-tempat yang sering digunakan sebagai lokasi pelaku mengintimidasi korbannya.  Perasaan takut terhadap pelaku bullying memang terkadang tak terhindarkan. Oleh karena itu, guna mencegahnya, menghindari tempat-tempat pelaku intimidasi sering bergaul dan bertemu dengan kelompoknya.

  1. Ajak teman melawan pelaku bullying

Pelaku bullying merasa lebih berkuasa dan adiday ketika menggertak satu orang, tetapi mereka jarang akan menggertak kelompok. Berkumpul atau berjalan bersama dengan beberapa teman menjadi cara yang cukup efektif dalam mencegah aksi bullying.

  1. Tidak menanggapi pelaku

Strategi ini sangat tepat untuk diterapkan dalam kasus cyberbullying atau intimidasi secara online yang termasuk di dalamnya, teks, email, atau pesan instan. Dengan memblokir semua jalur komunikasi dengan pelaku, akan semakin mempertegas kesan bahwa korban tidak peduli dan tidak ambil pusing. Selalu ingat kembai bahwa pelaku bullying akan merasa teah mendapat kendali diri dari korban apabila korban memberi reaksi berlebihan yang membuatnya terlihat ketakutan. Cukup dengan menyimpan bukti tindakan bully yang diterima sebagai bukti sekaligus tindakan preventif yang mungkin berguan asuatu saat nanti, tidak menanggapi pancingan dari pelaku sama sekali adalah strategi  terbaik dalam menghadapi bullying khususnya yang berbasis online.

  1. Libatkan korban

Hal penting yang harus dilakukan jika melihat ada sesuatu yang salah dengan korban bully adalah berbicara dengan mereka. Poin inti yang dapat dilakukan untuk korban yang diintimidasi adalah dengan memvalidasi situasi. Memperhatikan perasaan korban dan biarkan mereka tahu bahwa banyak orang yang peduli. Memang tidaklah mungkin untuk  menyelesaikan semua masalah bullying yang sedang dihadapi korban, tetapi penting bahwa mereka tahu  bahwa mereka tidak sendiri dan mereka dapat mengandalkan orang-orang di sekitar untuk mendapatkan dukungan.

  1. Menjadi panutan

Bullying adalah perilaku yang dapat ditiru dan dipelajari dari orang lain. Anak-anak terutama, mengambil perilaku antisosial seperti bullying dari panutan orang dewasa, orang tua, guru, dan media. Sehingga menjadikan diri sendiri sebagai teladan yang positif bagi lingkungan dengan menunjukkan sikap serta perilaku sosial yang baik sejak usia dini bukan sebuah hal yang bisa dinegosiasi lagi. Anak-anak hingga remaja masih terlalu labil dan kemungkinan untuk memasuki hubungan yang merusak atau menyakitkan jika masih membayangi mereka. Sebagai orang yang lebih tua, sudah menjadi sebuah kewajiban dan tuntutan untuk menghindarkan anak dan orang-orang idsekitar dari hubungan dan perilaku negatif, khususnya bullying.

  1. Pendidikan yang berkualitas

Pelatihan serta pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan sangat penting untuk menghentikan intimidasi dalam sebuah komunitas hingga lingkungan masyarakat. Melalui pendidikan yang baik, para guru memiliki waktu yang cukup untuk berbicara secara terbuka dengan para siswa tentang berbagai tindak bullying atau intimidasi sekaligus dapat mengevaluasi langsung bagaimana iklim intimidasi yang ada di ligkungan sekolah. Keadaan  ini juga akan membantu anak-anak dalam memahami perilaku seperti apa yang masuk dalam kategori bullying.

Menjadi hal yang tak kalah penting untuk mendidik staf dan karyawan yang ada di sekolah bahkan orang tua murid mengenai tindakan bullying. Mereka perlu memahami berbagai bentuk serta  sifat bullying dan dampaknya, bagaimana merespons bullying di sekolah, dan bagaimana bekerja dengan orang lain di masyarakat untuk mencegahnya.

  1. Bangun masyarakat yang mendukung

Bullying adalah masalah sosial masyarakat dan membutuhkan solusi yang melibatkan  masyarakat pula. Demi menghapus praktik bullying, semua elemen masyarakat harus turut serta. Termasuk dalam konteks ini adalah masyarakat sekolah ataupun di lingkungan kerja. Siswa, orangtua, guru, karyawan, konselor, staf, pekerja kantin, hingga perawat sekolah, perlu dibangun pendekatan bersama dalam tujuan yang sama untuk memberantas praktik-praktik bullying.

Jika seorang  dalam lingkungan tersebut mengalami intimidasi, penting bagi orang lain untuk tidak menghadapi pelaku intimidasi atau orang tua pelaku intimidasi itu sendirian. Sebab hal ini seringkali tidak produktif dan bahkan bisa berbahaya. Alih-alih, mengerahkan masyarakat dan komponen yang ada. Guru, konselor, dan karyawan memiliki informasi dan sumber daya yang cukup untuk membantu menentukan tindakan yang sesuai. Sehingga dengan mengembangkan masyarakat yang saling mendukung menjadi salah satu strategi cerdas untuk mengatasi intimidasi.

  1. Bersikap adil dan konsisten

Peencanaan menjadi hal yang sangat penting dalam rangka menghadapi tindakan penindasan. Kebijakan atau aturan tertulis adalah cara yang efektif dalam mengatasi bullying. Setiap orang harus diperlakukan dan diperlakukan secara adil dan konsisten, sesuai dengan kebijakan serta aturan yang ada. Seperti misalnya pada praktik penindasan emosional tentu memiliki konsekuensi yang setara dan proporsional dengan penindasan fisik.

Kebijakan tertulis di sekolah seharusnya tidak hanya melarang perilaku intimidasi, tetapi juga membuat siswa bertanggung jawab untuk membantu siswa lain yang bermasalah. Kebijakan harus jelas dan singkat sehingga setiap orang dapat memahaminya secara sekilas. Kekonsistenan dalam penegakan aturan dan kebijakan dalam kaitannya dengan bullying mejadi hal yang sangat penting demi tegaknya aturan dan konsekuensi yang diberikan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Guru hingga staf di sekolah harus mampu melakukan intervensi dengan segera untuk menghentikan intimidasi, dan diperlukan adaany pertemuan lebih lanjut bagi pelaku intimidasi dan korban. Bahkan orang tua siswa yang ikut terpengaruh juga harus dilibatkan jika memungkinkan.

  1. Memberdayakan saksi

Seringkali, para saksi yang ikut terlibat dalam tindakan bullying merasa tidak berdaya untuk membantu. Kebanyakan dari mereka kemungkinan berpikir bahwa terlibat bisa saja membawa dampak buruk atau membahayakan bagi diri mereka sendiri hingga menjadikan mereka “orang buangan”. Tetapi penting untuk memberdayakan orang yang berdiri di dekatnya untuk membantu. Dalam kasus ini, perlindungan bagi saksi yang dapat membantu mengungkap tindakan bullying sangat diperlukan. Para saksi juga perlu diberikan pememahaman bahwa diam dan tidak adanya tindakan dapat membuat pelaku intimidasi menjadi lebih kuat.

  1. Memberikan pengertian pada pelaku bullying

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah para pelaku intimidasi juga memiliki masalah yang harus dihadapi   dan juga membutuhkan bantuan dari orang lain. Pelaku sering terlibat dalam perilaku intimidasi karena kurangnya empati dan kepercayaan, atau sebagai akibat dari masalah yang mereka hadapi di rumah. Pelaku pertama-tama perlu disadarkan bahwa perilaku mereka adalah penindasan dan bukanlah tindakan yang terpuji. Kemudian, mereka juga perlu memahami bahwa intimidasi berbahaya bagi orang lain dan mengarah pada konsekuensi negatif. Perilaku intimidasi dapat dihentikan salah satunya dengan cara menunjukkan kepada para pelaku apa saja konsekuensi dan dampak dari tindakan mereka.

Ketika dihadapkan dengan tindakan bullying,  jangan takut untuk memberi tahu seseorang bahwa hal tersebut sangat menggangu. Pasti akan ada orang yang peduli dengan dan akan membantu. Mungkin menakutkan untuk memberi tahu seseorang tetapi, mengatakan tidak hanya akan membantu . Jika intimidasi tersebut berupa fisik dan cukup membahayakan, segera berkonsultasi dengan orang dewasa yang tepercaya menjadi hal yang sangat membantu. Jika tidak memungkinkan untuk mengunjungi orang tua, jasa konselor atau bimbingan guru tepercaya hingga psikolog sekolah menjadi opsi lain yang tak kalah baiknya. Ceritakan kepada mereka apa yang terjadi, siapa yang melakukan intimidasi, di mana dan kapan  tindakan itu terjadi, berapa lama hal itu terjadi, hingga bagaimana hal itu mengusik kenyamanan. Adalah tugas seuruh komponen yang ada dalam sebuah lingkungan, baik sekolah, pekerjaan, hingga masyarakat untuk membantu orban bullying tetap aman.

Ketika intimidasi terjadi, pelaku bullying menargetkan orang lain yang berbeda dari mereka dan memilih mereka. Kapan pun seseorang diganggu karena orientasi seksual, ras, atau agamanya, yang termasuk dalam bullying, itu harus dilaporkan. Melawan dan Mmengahapuskan tindakan bullying membutuhkan peran serta dari seluruh anggota masyarakat. Dukungan harus diberikan kepada mereka yang diintimidasi, mereka yang menyaksikan intimidasi, dan para pelaku intimidasi itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Write A Comment