5 Penyebabnya Fenomena Bullying Murid ke Guru Yang Viral

1 0

Belakangan ini sering sekali kita melihat adanya berbagai berita ataupun video-video yang tersebar mengenai fenomena bullyinh murid ke guru. Faktor utama dari kejadian ini adalah kurangnya rasa hormat dan batasan antara murid dan guru. Untuk menghindari terjadi lagi kasus-kasus seperti ini kedepannya maka akan diulas mengenai 5 penyebab terjadinya bullying murid ke guru. Dengan begitu kita bisa mencari solusinya bersama-sama.

Pola berpikir anak milenial​​ sekarang yang lebih transparan

Pola berpikir anak zaman sekarang ini cenderung lebih transparan. Sehingga terkadang anak menjadi lepas kendali. Dimana ia tidak akan segan untuk bercanda dengan siapa saja. Hal tersebut mengakibatkan anak tidak memiliki batasan dengan orang yang lebih tua. Hal-hal sepele yang dianggapnya lucu akan dilakukannya tanpa berfikir orang tersebut lebih tua atau tidak.​​

Secara tidak langsung anak hanya mengekpresikan kejahilan yang membuatnya senang semata. Padahal bisa saja hal tersebut dapat merugikan orang lain. Karena itulah pendidikan karakter sangat penting dilakukan sejak dini dirumah. Anak harus mampu mengendalikan diri dengan baik. Meskipun ia ingin bercanda maka ia akan bercanda sesuai dengan porsinya saja bersama dengan anak-anak seumurannya. Bukan dengan orang yang lebih tua. Orang lebih tua harus dihormati begitu juga sama dengan ketika anak menghormati orang tuanya.

bb - 5 Penyebabnya Fenomena Bullying Murid ke Guru Yang Viral

Anak​​ milenial​​ ​​ sekarang lebih mengedepankan emosi

Ketika anak menghadapi masalah dirumah ataupun masalah sosial mereka cenderung akan mengekspresikan emosinya kemana saja. Salah satunya adalah ketika anak sedang ada masalah dan guru menegur maka anak tersebut akan marah-marah dan bahkan membully gurunya.​​ Namun ketika ia sadar maka ia meminta maaf kepada gurunya.​​ Dari hal tersebut dapat dilihat jika anak belum mampu menstabilkan emosinya dan tidak bisa menahan diri. Karena hal tersebut anak menjadi kasar dan meluapkan emosinya kepada orang lain.​​ 

Memang wajar jika dalam umur yang cukup muda anak cenderung tidak stabil atau masih mencari jati dirinya. Namun hal tersebut bukan berarti ia bisa meluapkan emosinya. Sangat penting bagi para orang tua untuk bisa meredam emosi anak dan mengajarkan kepada anak untuk mengendalikan dirinya. Semakin anak bisa mengendalikan diri maka anak akan berfikir tentang sesuatu yang akan dilakukannya.

Kurangnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak

Orang tua memiliki peran utama dalam pembentukan karakter anak. Karena anak akan lebih sering melihat perilaku orang tuanya yang dirumah. Sejak kecil anak tentunya akan memperhatikan tingkah laku orang tuanya terlebih dahulu sebelum ke lingkungan sekolah. Kebanyakan orang tua karena sibuk dalam urusan pekerjaan sehingga tidak perhatian dengan anak.​​

Dengan begitu,​​ anak tumbuh dengan bebas tanpa ada arahan orang tua. Hal tersebut cenderung membuat anak bimbang dan tidak memiliki acuan. Sehingga mengakibatkan anak tumbuh dengan​​ egonya sendiri dan mengikuti apa yang disukainya. Padahal dalam pembentukan karakter anak harus diberi arahan mana yang baik dan mana yang tidak.​​ Bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua. Bagaimana cara berempati dan lain sebagainya.​​ Hal tersebut menjadi pokok utama pembentukan karakter anak sejak dini. Karakter merupakan dasar yang dimiliki manusia sehingga sangat penting bagi anak kedepannya untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan agama yang kurang

Selain pendidikan informal disekolah tentunya pendidikan agama sangat penting untuk anda berikan kepada anak-anak sejak dini. Semakin anak tersebut mengerti tentang agama maka ia akan semakin takut untuk melanggarnya. Hal tersebut bisa memberikan anak batasan tentang apa yang harus dilakukannya. Sehingga secara tidak langsung anak menjadikan agama sebagai pedoman dan arahannya. Karena kurangnya pendidikan agama anak sering kali tidak mengetahui batasan antara apa yang seharusnya dilakukan dengan orang yang lebih tua.​​

Dengan begitu mereka akan berpikir mereka berada dijenjang yang sama dan lupa akan batasan menghormati orang yang lebih tua. Sebaiknya sejak dini anak diberikan pendidikan agama dengan baik agar anak bisa lebih paham mengenai batasan boleh dan tidak bolehnya. Anak yang beragama baik akan memiliki sikap yang lebih sopan dan mampu mengendalikan diri dengan baik.​​

Pendidikan karakter yang kurang kuat

Ketika beranjak dewasa dan masih dalam masa muda anak cenderung akan mudah terpengaruh terhadap lingkungan dan teman-temannya. Untuk itu kebanyakan orang tua akan mengawasi dengan siapa anak tersebut bergaul. Karena seperti yang diketahui bersam bahwa pergaulan anak-anak di zaman sekarang sangatlah berubah. Pendidikan karakter terhadap anak haruslah kuat dan membentuk karakter anak sehingga tidak mudah goyah dengan pengaruh temannya.​​

Selain itu pendidikan karakter yang kuat ini juga bisa diajarkan disekolah dengan adanya disiplin dan taat dan belajar. Jika anak berfokus pada disiplin dan belajar maka ia tidak akan memiliki kesempatan untuk memikirkan yang lainnya.​​ Hal tersebut bisa membantu dalam pembentukan pribadi anak yang lebih kuat. Hukuman dibuat untuk setiap pelanggaran juga merupakan salah satu cara membentuk karakter anak menjadi lebih kuat dan disiplin.​​ Semakin orang tua dan sekolah memiliki karakter yang kuat maka anda juga akan membentuk karakter yang kuat.

Itulah beberapa penyebab sering terjadinya bullying murid ke guru. Kita harus bersama-sama menghindari hal tersebut untuk bisa menciptakan generasi muda yang lebih berakhlak. Karena pembangunan nantinya akan diteruskan oleh generasi-generasi muda yang penuh dengan potensi. Untuk dapat membangun negara dengan baik maka dibutuhkan generasi yang berahlak dan beragama.